Menerapkan teknologi terbaik untuk menghasilkan nikel terbaik, bersamaan dengan membangun kesadaran dan penghargaan terhadap lingkungan sekitar adalah apa yang terus menerus Vale Indonesia lakukan.
Selama beroperasi bertahun-tahun, kami selalu berusaha untuk meningkatkan dan memajukan teknologi untuk mendukung produksi. Sejalan dengan itu, kami menaruh perhatian pada teknologi yang ramah lingkungan dan menunjang kehidupan masyarakat serta teknologi yang berfokus pada manfaat jangka panjang yang berkesinambungan.
Hal tersebut meliputi kegiatan penambangan dan pengolahan nikel, fasilitas pendukung, performa yang berkaitan dengan lingkungan - termasuk Roller Compacted Concrete (RCC) – atau beton kering terkompaksi – pada konstruksi PLTA Balambano dan Karebbe, sistem penyaringan bag house, implementasi sistem SAP dan banyak lagi.
Konstruksi Bendungan RCC
PLTA Karebbe dibangun dengan teknologi Roller-Compacted Concrete (RCC) – beton kering terkompaksi – yang juga diterapkan pada PLTA Balambano, bendungan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi RCC.
Metode konstruksi RCC menjadi populer karena terbukti menghabiskan biaya lebih murah daripada metode konvensional. Pada bagian tertentu, proyek bendungan PLTA ini juga dapat diselesaikan lebih cepat karena menggunakan volume bahan lebih sedikit (dibandingkan sistem konvensional).
Selain itu, teknologi RCC memungkinkan kami untuk melakukan penghematan pada pembangunan pelimpah, saluran outlet, skema pengalihan aliran sungai dan fitur terkait lain yang dapat dirancang untuk menjadi lebih efisien dengan mengurangi bahan intensif daripada menggunakan tanah atau konstruksi bendungan pengurukan.
Selama lebih dari 30 tahun metode RCC telah diakui seluruh dunia, RCC terkenal karena desain dan konstruksinya dapat menggunakan material lokal. Material agregat RCC yang diterapkan di bendungan Balambano juga digunakan di bendungan Karebbe.
PLTA Karebbe memiliki ketinggian bendungan 68 m dan panjang 197 m. Volume RCC sebesar 188.000 m3, dengan volume sebesar 188.000 m3. PLTA ini memiliki tiga bangunan pelimpah dengan satu pintu utama dan dan saluran limpas, sementara pipa pesat berada pada pondasi bendungan tersebut.
Bangunan pembangkit (powerhouse) berada di bawah bangunan pelimpah dengan generator yang menghasilkan daya rata-rata 90 megawatt (MW). Modifikasi tailrace berupa kanal buatan mengefesienkan penggunaan air untuk pembangkitan.
Teknologi Penyaringan Baghouse
Ketika bijih nikel ditambang, debu telah ada. Begitu bijih dimuat ke dump truk 777, debu mulai menyebar ke mana-mana. Hal ini berlanjut ketika bijih tersebut dikeringkan dengan pengering, diproses dalam kiln, dan ketika Furnace meleburkan kalsin. Bijih dari tanah bumi tersebut kemudian terus menghasilkan debu. Dan debu merupakan gangguan sehari-hari bagi kita.
Pada dasarnya, teknologi baghouse bekerja seperti vacuum cleaner, dalam artian bahwa teknologi ini menghisap dan memerangkap partikel dengan filter kain. Baghouse adalah istilah umum yang digunakan dalam peralatan untuk mengontrol polusi udara jenis tertentu, yang dibangun dari kain yang menyaring emisi debu. Baghouse filter merupakan bagian dari sistem kontrol emisi debu yang telah diterapkan oleh perusahaan kami sejak awal 2005.
Vale Indonesia telah membangun empat baghouse, yang masing-masing memiliki 12 kompartemen yang dilengkapi dengan 360 filter bag. Baghouse tersebut kemudian dihubungkan ke Furnace. Saat ini, hanya kiln dan dryer stack yang masih mengeluarkan debu emisi.
Untuk meminimalkan efek dari debu ini, berbagai perangkat filter debu juga telah dipasang. Salah satu dari perangkat ini adalah wet scrubber. Alat ini terlihat seperti penyiram air,digunakan untuk menyemprot debu yang beterbangan di udara dan menurunkannya ke tanah. Selain itu, ada teknologi ESP (Electrostatic Precipitator) yang menggunakan listrik statis untuk menangkap debu. Debu terbang ini kemudian ditarik oleh efek elektrostatik dari ESP.
Teknologi terbaru tentu saja adalah baghouse. Sebelum gas debu Furnace memasuki stack, debu tersbut akan melewati ratusan filter bag. Pada saat gas tersebut keluar dari baghouse, hampir semua debu telah tersaring. Efisiensi penyaringan baghouse mencapai 99,9 persen.
Implementasi Sistem Global SAP
Sebelumnya, sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang kami gunakan adalah Ellipse. Sistem Ellipse berakhir masa penggunaannya pada Juli 2010 dan dirasa perlu untuk ditingkatkan atau diganti segera.
Dengan tujuan untuk menyederhanakan dan menstandarisasi proses, perencanaan bisnis dan manajemen bisnis di seluruh unit Vale di dunia, lalu disiapkanlah strategi untuk menerapkan dan meluncurkan sistem ERP global, SAP, untuk mendukung seluruh unit Vale.
Di Indonesia, sistem ERP berubah dari Ellipse ke SAP dan telah Go Live pada 4 Juli 2011, di bawah proyek One Vale PTI. Satu database terpusat yang menyeluruh untuk semua unit Vale tersedia untuk mengglobalisasikan dan mengkonsolidasikan kegiatan operasi perusahaan.
Implementasi SAP ini tidak hanya mengganti sistem TI, sistem ini juga mengubah cara kami melakukan bisnis menjadi lebih efisien serta mempersiapkan kami untuk pertumbuhan di masa depan.
Lebih dari itu, sistem baru ini mengintegrasikan proses multi-bisnis perusahaan seperti manajemen produksi, pemeliharaan, manajemen material dan warehouse, penjualan dan distribusi, keuangan, dll; serta menyediakan database pusat informasi bagi semua proses di atas.
Implementasi SAP diyakini akan meningkatkan kinerja proses bisnis Vale Indonesia di berbagai aspek seperti mitigasi risiko yang lebih komphehensif, pengambilan keputusan yang lebih baik dan meningkatkan transparansi pelaporan. Penggunaan sistem yang paling optimal ini juga mendukung visi kami menjadi salah satu perusahaan tambang terbesar dan terbaik di dunia di dunia.
|